Senin, 14 Juni 2010

WAKTU YANG BERLARI,AKU YANG MERANGKAK

           Tanpa terasa,aku sudah 2 tahun di tanah  Jakarta.Tanah bagi jutaan impian yang meledak-ledak bagai lahar panas masa muda.Setiap kesempatan menjadi kaya terhampar bebas,itu yang mendorong niatku menjejakkan kaki di kota ini.Namun,ternyata anggapan ku salah besar.Kota ini belum bisa memberikan ku apa-apa,hanya penderitaan yang memekakkan telinga.Mengebiri akal sehat.Mengoyakkan tiap pemahaman akan hidup,memecundangi setiap pengetiaan hidup sejahtera dan berlimpah ruah.
            Tiap tetesan keringat yang mengucur memberikan pelajaran berharga,menyelipkan tiap pesan moral yang tak akan habis di telan jaman.Di telan derasnya pergantian waktu yang seakan hanya bisa di hentikan oleh malapetaka.Di hentikan kejadian yang membuat kita kembali sadar akan arti kehidupan kita seutuhnya.
                     *********************************************************
Iri memandangi langit yang tak bersahabat.Serta-merta kuhela nafas panjang yang tiada terperi.Ingin rasanya aku teteskan air mata kepasrahan,menaburkan keluh kesah kepada kaki langit yang disebut tanah.Ingin kurebahkan tubuhku bersama debu,sejumput debu mungkin bisa menghempaskan tiap dosa yang ku lakukan.Mungkinkah setiap perlakuanku hanya menebarkan aral saja,aku hanya bisa menganggap itu ada.
Menganggap tiap kegagalan ku sebagai manusia hanya oleh karena kerasnya hatiku kepada kehidupan,aku tidak melunakkan pikiran.Hanya sesekali mengenyitkan dahi tanpa tahu bersyukur.Tanpa mengucap kata terima kasih pada-Nya  tetapi aku berharap banyak dari-Nya.
Sebagai manusia aku telah hilang,tertiup angin yang kecil,tanpa berusaha mencari pegangan.Malah terbang mengikuti arahnya.Aku tepesona jaman,terpesona keadaan.Terpesona indahnya ke hura-hura an yang semu dan tanpa makna.Aku mencoba bisa mengerti bahwa setiap delik kehidupan itu bermuara pada ketidak pastian,bermuara pada ke was-was an yang berlebihan dan cenderung penuh teka-teki.Andai kata kita selembar daun,hanya berguna saat hijau merekah.Indah di pandang mata.Setelah habis waktunya,hilang tertiup angin.Melayang jatuh dan terinjak-injak.
Namun,tibalah pada keharibaan alam,sebagai mahluk ciptaanya.Haruslah kita bisa menerima dan berucap Terima kasih.Atas setiap perlajuan dan kasihnya yang berlimpah.Memberikan nafas kehidupan bagi tiap insan tanpa terkecuali.Menyisihkan waktunya untuk menegur kita,walau terkadang kita pura-pura tidak mendengarkan.Pura-pura bersedih apabila tiba masa peribadatan.Kemudian berpesta setelah keluar melalui pintu belakang.Saat kothbah menjadi ajang Mengepulkan asap,mengotori langit yang membuat kita iri,namun juga termanusiakan sendiri.

Peron-peron hanya melengkung pasrah,berteriak pun tak ada yang mendengar.Apalagi mengutuk seseiapa yang melaluinya.Ia hanya memerdekakan diri dengan kata-kata penghiburan dan lagu-lagu kebahagiaan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar