Ketawa dan Meringis, Karena Kartun Orang Batak
Posted by: tobadreams on: 29 Mei, 2008
Oleh : Raja Huta
SILAKAN tertawa sepuasnya. Mesem-mesem juga boleh. Gambar kartun di atas memang lucu, dan Batak banget. Maksudku, titik berat humor Batak rupanya terletak pada kemampuannya mencopet kelucuan dari ironi, satir atau paradoks. Yang jelas, orang Batak punya kemampuan menertawakan diri sendiri. Banyak miripnya dengan Cina.
Kartun di atas kutemukan di sebuah blog yang baru terbit Maret 2008. Kartun Orang Batak, nama blog dengan URL : jephman.wordpress.com itu, cukup banyak penggemarnya. Sayang, pengelola blog itu terlalu pelit berkomunikasi dengan pengunjung. Jarang sekali ditanggapi komentar yang masuk, dan sebagian dari tanggapannya yang terlalu sedikit itu terasa pedas sekali.
Pada keterangan “About” hanya terdapat teks dua alinea, tanpa penjelasan mengenai siapa pengelolanya dan kota domisilinya :
Batak, salah satu etnis besar di Indonesia namun dipinggirkan, sering didiskriminasi akibat agama, ditertawakan hanya karena logat bicara, dilecehkan karena adat budayanya. “Sudah Batak, Kristen pula” , anggapan pedas yang tak diucapkan namun sering terlontar dari perlakuan dari sesama anak bangsa.
Melalui blog ini seorang Batak mencoba bertutur melalui kartun. Agar image kasar, keras orang Batak membuat kita semua bercermin, mengkoreksi diri. Karena semua manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah sama di mata Tuhan
Cuma itu keterangan yang ada. Dalam tanggapannya terhadap sebuah komentar, pengelola blog dengan rendah hati mengakui, mutu gambarnya memang masih alakadarnya. Cukup simpatik. Tapi ada satu tanggapannya, satu-satunya tanggapan pada “About”, yang sungguh menghentak :
jephman (01:58:16) :
@ nirwan
Batak ada dimana-mana, bung
Batak memang banyak di Medan
Bukan berarti Batak=Medan
Medan terlalu kecil buat mengukur kebatakan
paham?
* * *
SEBAGAI penggemar kartun, aku hanya bisa menikmati beberapa dari puluhan kartun yang ada di dalam blog itu. Satu hal, produktivitasnya memang mengagumkan. Ide-idenya pun ada beberapa yang kuat dan orisinil, namun sayang kurang berhasil divisualisasikan.
Selain itu, yang agak menyurutkan gairah berhumor-ria, sebagian besar kartun yang ditampilkan sangat terkesan sebagai pamflet dan hampir mendekati sinisme; terutama mengenai isu diskriminasi agama. Kalau saja kritik itu diolah lagi menjadi sentilan yang menggelitik, barangkali pesannya akan lebih bisa diterima, bahkan oleh yang dikritik sekali pun.
Ini adalah satu lagi kartunnya yang aku sukai :
TIDAK banyak yang tahu, terutama yang bukan halak hita, sebenarnya orang Batak punya rasa humor yang gawat. Tahun 80-an, hanya dengan menyebutkan nama-nama yang tidak masuk akal berikut ini : Si Sayur Balati (sayur belati), Si Timba Laut (tukang timba laut), Si Sangkui Sahitna (yang mengantongi penyakitnya), dan Nai Malvinas; sudah bisa bikin orang Batak terbahak atau tersenyum geli. Itu adalah nama-nama peran dalam cerita lawak Batak yang diedarkan dalam bentuk kaset.
Si Suar Sair, kartun di koran Sinar Indonesia Baru, sangat populer di kalangan orang Batak pada tahun 70-an. Begitu hebatnya popularitas kartun itu, sampai terbawa ke dalam percakapan sehari-hari. Kalau mau menggambarkan nasibnya yang belum beruntung, orang Batak pada masa itu akan mengatakan,”Songonma nasibhu, songon Si Suar Sair (Beginilah nasibku, seperti Si Suar Sair.” Memang, tokoh kartun itu selalu bernasib sial.
Sementara itu orang-orang humoris pun tak kalah banyaknya di kalangan orang Batak. Mungkin terlihat aneh, tampang macho tapi jago berkelakar. Nyatanya memang begitu. Salah satu rahasia mengapa orang Batak betah markombur (ngobrol) lama-lama adalah karena banyaknya stok cerita lucu, atau sekadar parodi dari kenyataan yang sebenarnya pahit.
Baru-baru ini, dalam percakapan santai selepas rapat di TobaDream, tuan rumah Monang Sianipar sempat bingung mendengar celetukan Laris Naibaho, dedengkot Asosiasi Loper koran Indonesia. Ucapan Pak Monang,”…tanomonta ma antong hau di dalan (nanti kita akan tanam pohon di jalan),” kontan disanggah oleh Laris, dengan ekspresi wajah sangat serius,”Unang antong di dalan, ba gabe soboi be annon mobil lewat (janganlah di jalan, nanti mobil tidak bisa lewat). jala molo ditanom do, ai busuk doi (dan kalau ditanam, nanti akan busuk).”
Bisa Anda bayangkan perubahan roman muka Pak Monang. Mulai dari merasa heran karena memang tidak ada ucapannya yang perlu dikoreksi, kemudian jengkel karena meresa “diusilin”, lalu tersenyum lebar setelah menangkap titik lucunya; dan akhirnya dengan sigap melontarkan guyonan yang tak kalah lucunya. Wakakakakkgorga ni sirait:
lesem nya orang batak memang tiada duanya,saya punya tetangga di kampung dulu.apa saja yg dia lakukan tidak jauh2 dari kesan lucu,bahkan ketika dia sedang serius pun mimik wajahnya seakan memperkosa kita untuk cepat-cepat mengetawai nya.
saya masih ingat ketika latihan natal di tahun 2000,dia terpilih jadi ketua natal.aneh bukan?
tapi menurut saya tidak aneh,karena memang itu usul penasehat pemuda di huta dengan harapan dia bisa menahan diri dengan tidak mengeluarkan guyonan-guyonan yg bisa mengocok perut dan serta merta mengeluarkan isinya.
namun ternyata keputusan diatas tidak ada yg menentang nya bahkan malah mendukungnya,hingga tiba pada saat mulai latihan.dia tampil dengan gagah ya di hadapan punguan.
belum dia mengeluarkan sepatah dua kata kami serempak sudah membuat koor tawa yg membahana,dia pun makin heran dalam kediamannya,wajahnya bak wajah mr.bean di televisi.dengan malu dia keluar meninggalkan kami dengan kelakuan konyol kami semua.mungkin bila dia tidak langsung keluar meninggalkan kami,banyak yang pingsan diantara kami karena mati ketawa.
mungkin tulisan ini tidak ada kaitannya dengan artikel abang raja huta diatas,namun setelah saya baca artikel itu timbul keinginan untuk menulis hal ini,karena memang kami semua yg tertawa jelas2 menertawai kebodohan kami semua.mengapa demikian karena bisa saja kami menolak pengangkatan dia jadi ketua natal sewktu dia diajukan.namun kami tidak melakukan hal itu karena kami semua sudah membayangkan sutu masa di mana akan ada banyak latihan2 natal yg di penuhi dengan koor-koor tawa dan berusaha menertawai kebodohan-kebodohan kami karena me-ridho i pemimpin tawa yg menjadi pemimpin kami meskipun pemimpin tersebut mungkin dalam bnaknya benar seprti keinginan para penasehat"tobat".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar