Selasa, 22 Desember 2009

PERISTIWA

Banyak hal yg membuat kita berharga,banyak hal juga yg membuat kita tidak lebih dari ampas peradaban.kronologis tiap peristiwa dalam kehidupan kita kadang tidak cukup menyadarkan kita untuk dapat berbuat lebih.contoh kata,pengalaman pahit belum tentu membuat kita makin dewasa dalam perbuatan.
Manusia hanya termanusiakan oleh peristiwa terkemuka dalam kehidupan nya,termanusiakan oleh keinginan hati dan keikhlasan nya menerima kenyataan..
Suatu masa di penghujung malam di akhir november,aku memandangi langit2 di luar bilik ku yang sempit.Mataku mencoba mencari pendaratan yg indah,mungkin hati ku waktu itu sedang berkhayal tentang padang sabana di desa sibarani.Aku kagum pada gerak rumput yang menggoyangkan batang nya mengikuti arah hembusan angin seakan aku ikut bergoyang liar dan tak terkendali.
Lemari berwujud bak pohon pinus yang dahannya menelurkan aroma ketenangan,ranjang dan lantai mengikuti perubahan nya dalam alam khayal yg srta merta menghanyutkan indera ku malang.
cukup lama aku menenggelamkan kesadaran ku desauan angin sore itu.
Namun itu tidak berlangsung lama,tidak pula sesanggup waktu meninggalkan ku tentang pelik kehidupan.aku kembali tersadar di atas peraduan ku,teringat bekal esok telah habis di periuk.
Aku ingin meneteskan air mata agar lega di penghujung malam,tetapi sesenggukan pun tak akan mengisi periuk yang berdenting karena kosong pikirku..
Ingin rasanya aku meneriaki kebodohan ku,mencaci maki membabi buta.namun buat apa aku melakukan itu,periuk tak akan terisi gumamku..
lama aku tenggelam dalam permainan hati yg tidak mau mengalah saling menyalahkan.
tiba-tiba entah dari mana hatiku mengusulkan solusi terakhir yg paling tidak masuk akal'mencuri'..
perbuatan hina yg mengatas namakan perut penderitaan,ucap hatiku yg dominan dgn dosa,bahkan membumbui nya dengan alasan dan argumen yg membuatnya demikian masuk akal dan tidak berbahaya bahkan merupakan jalan terbaik..
kelihatannya sisi baik ku telah termakan rayuan untuk memperkosa keimanan,percuma tiap minggu pagi berlutut di hadapan altar mu dan meminta belas kasih mu..
"doa mu kan tidak di kabulkan gan..!!
"mencuri demi kelangsungan hidup kan tidak salah..!!
dengungan itu membuat ku semakin limbung di sadar ku..

kalah juga pertahanan ku,kubulatkan tekat menyiapkan segala sesuatu nya.kutatap rumah itu dari jauh, eyang tini cuma tinggal sendiri..kata orang2 dia itu tidak mungkin ada yg ganggu karena anaknya adalah kapolres di kota ini.ahh...itu cuma angin lalu buatku,ku lompati pagar dari besi,mengendap di rindangnya bunga taman ..
kusiapkan linggis dan mulai mengorek persendian nya,,plakk...dengan bibir terkatup dan memejamkan mata aku membuka pintu belakang,berharap decit pintu tak membangunkan si meong di sebelahku..
melumpuhkan si eyang dengan bius di sapu tangan,itu agenda pertama ku,dan berharap sukses hingga aku leluasa mengobrak abrik isi lemarinya...

* * *
Pagi hari seperti biasa aku bangun dari tidurku,dengan gontai membuka pintu jendela yg tidak ber gordin..
aku kini di kota lain,mencoba lari dari pelarian ku terdahulu.entah ini pelarian ke berapa,yg pasti aku masih bisa menghirup udara pagi gumamku..
3 bulan sudah berlalu,banyak emas dan uang tunai dalam pelarianku,dari si eyang yg aku tidak tahu nasib nya..
" jangan bergerak,anda sudah di kepung..!!!
aku tersentak dari pagi ku yg setengah sadar,mencoba mencari arah suara yg menggelegar..
setengah sadar aku melompati jendela dan menerobos belukar,tengadah ku ke belakang menyiratkan aku bisa terbebas..
"doorr...dooorr..doorrr"
aku terjerambab tepekur memegangi kepalaku,tiba-tiba gelap sepeti bioskop yang hilang visual di penghujung acara.

kini ku pandangi pusaraku,salib berdiri di ujung nya dan seakan ingin menyalibkan aku..
jika aku hidup lagi aku tak akan mendengar hatiku bicara gumamku dalam wujud tak nyata..
penyesalan hampir membuatku menitik kan air mata,namun tida satupun rumput itu mendengar ku,hanya meliukkan batang nya dan gembira ria .
aku malu pada peristiwa lalu,kini aku sudah tiada tapi tak berubah..
ingin menggaanggu ketentraman insan di padang sabana mematahkan tiap2 batang nya kaena ku merasa seperti di olok olok liukannya.
peristiwa lalu tidak membuatku berubah,hanya menambah beban saja..








sirait panggorga****^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar